Category Archives: celoteh

wedang biru

Wedang biru, segenggam rindu dan seraut wajah sendu

Asal kamu tahu, aku tetap disini, selalu bersiap menyambutmu.

Ya…. ada rindu dalam segelas wedang biru

Advertisements

Mandi Rempah Tanpa Ke SPA

Beberapa hari ini badan saya terasa capek, pulang kantor rasanya kayak habis digebukin, lemes. Sudah diurut dengan minyak hangat, tetep tidak berasa segar. Daripada capek berkepanjangan, akhirnya saya mandi rempah  dengan resep warisan alm. Nenek . Bahannya cukup murah dan mudah didapat, bahkan beberapa bisa saya dapatkan di kebun, dan yang pasti gak harus antri di SPA.

Ini bahan-bahannya :

Continue reading Mandi Rempah Tanpa Ke SPA

Aku Kau Dandelion

Den Mas…

Bukankah ini waktunya kau mengajakku mengunjungi padang itu dan bertemu dengan Bunga Dandelion yang pernah kita tandai kala itu..

Mungkin saat ini dia sudah benar-benar memasrahkan diri pada takdirnya, tertiup angin lalu menjelma menjadi dandelion-dandelion baru yang akan tumbuh di musim penghujan ini.

Mari Bicara Tentang Kerinduan

7

Rasanya sudah lama sekali saya tidak update tulisan tentang berkebun. Sedikit mengulas aktivitas saya dalam kurun waktu 2013-2015. Bermula dari kegiatan iseng menanam sayuran disekitar rumah, aktivitas saya mampu bertahan selama 3 tahun sebelum akhirnya berhenti karena saya merasa lelah (Lebay Mode ON) karena partner sejati saya dalam berkebun sudah menghadap Sang Khalik (semoga Ibu damai disisi-Nya, aamiin).

Sunflower  #ilovegardening  #homestead  #sunflower  #flower

Hari ini, kerinduan saya tentang kebun nan asri kembali membuncah, setelah berbulan-bulan semua yang masuk ke tubuh saya adalalah bahan makanan dari luaran (pasar) yang tidak terjamin pakai pestisida atau tidaknya.  Sementara memang saya letoy dalam hal apapun, terutama berkebun ini. Banyak orang menyemangati saya untuk kembali aktif, tapi apalah daya, tenaga gak bisa seperti dulu lagi.

well, at the last of this post, i’ll share a video about my garden in 2014…. enjoy it

 

(#Uang Panai’)Kocak, Tapi Sarat Pesan

 

poster-film-uang-panai-1

Malam minggu lalu, saya menyempatkan (memaksa tepatnya) sendiri nonton di XXI, dan pilihan saya jatuh pada film berlatar belakang budaya Bugis-Makassar, UANG PANAI MAHA(R)L. padahal sebelumnya dari rumah saya pengennya liat MBY, haha, tp ya wis lah, gara-gara kejebak macet :D, MBY tayang duluan.

Ini Jogja Ces.. dan seperti saya duga, berhubung temanya budaya Bugis, penontonnya rata-rata mereka yang punya ikatan budaya dengan Sulawesi Selatan. Studio hanya berisi kurang dari 50 orang, dan rata-rata bisa atau mengerti bahasa bugis/makassar mungkin Cuma saya saja yang berdarah Jawa tulen diantara penonton malam itu .

Film  Uang Panai’ = Maha(r)l mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Anca (Ikram Noer) yang berjuang menjadi sukses demi bisa memberikan uang panai atau uang mahar sesuai permintaan pihak keluarga Risna (Nur Fadillah). Saat berjuang Anca dibantu oleh dua sahabatnya, Tumming dan Abu. Kisah Romantis Anca dan Risna yang terhalang aturan-aturan adat, perilaku Tumming dan Abu yang kadang spontan dan absurd dan pesan-pesan luhur orang Bugis Makassar antara lain ”Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai” , Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Allah Ta’ala”, dll.

Buat saya, film ini, selain hiburan, karena sumpah, bikin saya ngakak sepanjang pertunjukan, (eh nangis juga ding, karena beberapa penggal kisahnya memang menyentuh), juga nostalgia, kalimat-kalimat dalam bahasa makassarnya cukup mengobati rindu saya, secara , saat saya tulis blog ini 5/9/2016 saya secara official tepat 5 tahun saya meninggalkan Makassar dengan segenap kisah, suka, duka, romantisme, persahabatan juga persaudaraan.

Meskipun saya tidak paham benar bahasa Makassar, setting film dan alur film ini dari awal hingga akhir, membuat saya serasa kembali menelusuri kota Anging mamiri beserta seluruh romansanya. 😀

Masyarakat  awam yang tidak mengetahui makna sebenarnya dari uang panai mungkin akan berpikir bahwa uang panai adalah sebuah adat transaksional simbol budaya materialistik, padahal secara adat, itu adalah bagian dari sebuah budaya yang mengagungkan peran laki-laki dan perempuan sesuai porsinya.

Pokoknya gak rugi nonton film ini, ada banyak pesan moral, bukan cuma buat orang berdarah bugis, juga jawa macam saya ini.

Dan rasanya itu…

42b099f5406433dfec681f766589a841resnetfinal_final0.jpg

Malam ini, sejuta rasa membuncah, antara sedih, bahagia, rindu dan ah… ntah…

Esok adalah hariku, tanpanya, tanpa elusan tangannya yang setia menyentuhku semenjak aku hadir didunia ini.

Begitu banyak cerita yang ingin kusampaikan padanya, kisah-kisah yang tak seharusnya kupendam seorang diri, kisah yang harus kurekam dalam benakku, lalu kutumpahkan bersama linangan air mata diambang fajar.

Aku sadar, aku tak pernah bisa merasakan kasih sayang dan cintanya lagi, karena kini giliranku, memberikan tanda cintaku dalam setiap doa-doaku untuknya… lalu aku harus bangkit, mewujudkan segala harapannya atas diriku, yang selalu ia sebut dalam setiap doanya. Ya… bangkit, walau kadang berat, kadang membuat penat, dan kadang sulit untuk melangkah, tetapi.. Bismillah… pasti bisa,PASTI BISA… seperti yang selalu ia ucapkan setiap kali ia mencoba meyakinkan diriku untuk bisa, menjadi anak yang mandiri, bisa diandalkan, dan bisa menjadi diriku sendiri…

Bu…., seperti janjiku padamu kala itu, aku tak kan menyerah mengejar bahagiaku, demi aku dan hari yang kan ku jelang, engkau, ayah, adek, dan semua yang kelak menjadi bagian penting  dihidupku…

Dalam cinta dari aku anakmu…❤