(#Uang Panai’)Kocak, Tapi Sarat Pesan

 

poster-film-uang-panai-1

Malam minggu lalu, saya menyempatkan (memaksa tepatnya) sendiri nonton di XXI, dan pilihan saya jatuh pada film berlatar belakang budaya Bugis-Makassar, UANG PANAI MAHA(R)L. padahal sebelumnya dari rumah saya pengennya liat MBY, haha, tp ya wis lah, gara-gara kejebak macet :D, MBY tayang duluan.

Ini Jogja Ces.. dan seperti saya duga, berhubung temanya budaya Bugis, penontonnya rata-rata mereka yang punya ikatan budaya dengan Sulawesi Selatan. Studio hanya berisi kurang dari 50 orang, dan rata-rata bisa atau mengerti bahasa bugis/makassar mungkin Cuma saya saja yang berdarah Jawa tulen diantara penonton malam itu .

Film  Uang Panai’ = Maha(r)l mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Anca (Ikram Noer) yang berjuang menjadi sukses demi bisa memberikan uang panai atau uang mahar sesuai permintaan pihak keluarga Risna (Nur Fadillah). Saat berjuang Anca dibantu oleh dua sahabatnya, Tumming dan Abu. Kisah Romantis Anca dan Risna yang terhalang aturan-aturan adat, perilaku Tumming dan Abu yang kadang spontan dan absurd dan pesan-pesan luhur orang Bugis Makassar antara lain ”Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai” , Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Allah Ta’ala”, dll.

Buat saya, film ini, selain hiburan, karena sumpah, bikin saya ngakak sepanjang pertunjukan, (eh nangis juga ding, karena beberapa penggal kisahnya memang menyentuh), juga nostalgia, kalimat-kalimat dalam bahasa makassarnya cukup mengobati rindu saya, secara , saat saya tulis blog ini 5/9/2016 saya secara official tepat 5 tahun saya meninggalkan Makassar dengan segenap kisah, suka, duka, romantisme, persahabatan juga persaudaraan.

Meskipun saya tidak paham benar bahasa Makassar, setting film dan alur film ini dari awal hingga akhir, membuat saya serasa kembali menelusuri kota Anging mamiri beserta seluruh romansanya. 😀

Masyarakat  awam yang tidak mengetahui makna sebenarnya dari uang panai mungkin akan berpikir bahwa uang panai adalah sebuah adat transaksional simbol budaya materialistik, padahal secara adat, itu adalah bagian dari sebuah budaya yang mengagungkan peran laki-laki dan perempuan sesuai porsinya.

Pokoknya gak rugi nonton film ini, ada banyak pesan moral, bukan cuma buat orang berdarah bugis, juga jawa macam saya ini.

Advertisements

One thought on “(#Uang Panai’)Kocak, Tapi Sarat Pesan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s