Rejeki Tani Tanpa Ibu

Rejeki Tani

Rejeki tani

Bulan April 2 tahun lalu, Bapak memberi nama kebun kecil dikeluarga kami dengan sebutan Rejeki Tani, sebuah tetenger agar mudah dikenali orang sekaligus pengharapan yang akan terus kami syukuri bahwa kami senantiasa berlimpah rejeki dari bertani, meskipun hanya kami lakukan disekitar rumah.

Sebenarnya bertani disekitar rumah bukan barang baru bagi keluarga saya, awal tahun 1980 an, ketika saya lahir dan keluarga kami menempati kebun yang sekarang menjadi rumah dan kebun kecil serta sebagian kecil lainnya sudah dijual untuk ditukar dengan tanah sawah, Bapak dan ibu sudah mempraktekkan home farming.

Kami menempati pondok bambu semi permanen, Bapak mulai menanam melinjo, nangka, jeruk keprok, rambutan dan tak lupa tanaman kayu kayuan seperti sono keling dan mindi, juga bambu yang sangat kami perlukan. sementara ibu menanam tomat, bayam raja, pisang beraneka jenis, paria, Waluh, dan lain sebagainya.

Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana bapak dan ibu setiap waktu memanen apa saja yang bisa kami jadikan uang dan keluarga kecil tempat saya bernaung terus tumbuh dari waktu ke waktu hingga seperti hari ini.  Saya juga masih ingat betul teman bermain pertama saya adalah segerombolan bebek dan itik peliharaan bapak, ikan-ikan dikolam, kambing yang seperti mesin pupuk berjalan, ayam yang telurnya tiap pagi saya curi, hingga sapi serta lebah madu.

Sosok bapak yang tak kenal lelah serta ibu yang telaten bertani, semangatnya tidak luntur hingga hari ini, bakhan ketika raga ibu mulai merapuh karena sakit, hingga tak bisa lagi beraktivitas seperti sedia kala, ibu nasih belum mau berhenti berpisah dengan tanaman-tanaman yang selalu jadi sumber makanan kami.

Tahun 2011 ketika saya memutuskan meninggalkan Makassar dan pekerjaan yang sebenarnya sangat saya cintai, agar bisa menemani dan merawat ibu, saya mulai berfikir untuk bagaimana membuat ibu berbahagia, memiliki aktivitas ringan.

Berawal dari sekedar menanam kangkung di halaman kala itu, kemudian berkembang menjadi beraneka tanaman yang kami butuhkan sehari-harì, kebun kecil kami berubah tak lagi sekedar ‘mainan’ kami. Tanpa kami harapkan sebelumnya, kebun kami dikunjungi banyak orang, bapak menjadi tutor dan ibu menjadi koki untuk tamu-tamu kami, dan saya menjadi tukang jualan benih onlen sekaligus abdi dalem yang harus selalu siap diperintah oleh bapak ibu.

Perlahan tapi pasti bapak yang semula menderita  darah tinggi, asam urat, jadi lebih sehat dan bugar, ceria karena kenal dengan banyak orang dan mendapati rumah menjadi regeng karena banyak aktivitas. Ibu juga bersemangat,tubuhnya membaik, meski tidak sembuh total, suasana hatinya juga mulai membaik. Bahkan saking semangatnya, ibulah yang membantu saya mendapatkan ijin dari bapak untuk bisa ikut ASEAN Training on Home Yard Utilisation for  Supporting Food  Security. Ilmu itu penting, dan akan membawa kebaikan bagi sesama setelahnya, kata ibu kala itu.

Takdir Allah tidak bisa ditolak, dibalik semua kecerian kami, tiba-tiba Ibu harus meninggalkan kami semua menghadap Sang Khaliq. Begitu banyak kenangan manis kami yang sempat terukir, menjadi peninggalan indah bersama ibu yang akan terus kami kenang.
Sepeninggal ibu, hingga hari ini, setiap memandang kebun kecil kami, perasaan menjadi tidak karuan, seperti ada yang hilang dari dalam diri saya dan bapak. Tanpa ibu, kebun kini terbengkalai, semua masih kepayahan beradaptasi dengan keadaan baru, aktivitas berkebun dan belajar, terhenti semuanya.

Rejeķi tani tanpa ibu kini masih ‘terbaring’, tetapi semoga kami segera bangkit dalam warisan semangat yang pernah diberikannya dan meneruskan langkah kami yang sempat terhenti, meraih apa yang pernah kami mimpikan bersama dan memperindah kenangan yang terukir dengan karya nyata di hari-hari kedepan.

Advertisements

4 thoughts on “Rejeki Tani Tanpa Ibu

  1. Ganbatte mbak Budi..terus semangat..ayo bangkit lagi..ibunda sudah berbahagia di surga dan beliau akan lebih bahagia lagi karena jerih payahnya di uri2 dan memberi manfaat untuk orang banyak..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s