Soto daging sapi ala Esbea

image

Akhirnya, saya bisa buat soto sendiri, menu sarapan spesial kanjeng romo dan adhi lanang yang sedari habis subuh sudah bergelut dengan lumpur disawah.
Sudah bebrapa minggu saya pengen buat soto sendiri, dan bumbunya ngracik sendiri. Setelah beberapa kali menyambangi peracik bumbu dapur di pasar dan nanya-nanya akhirnya saya dapat meracik bumbu soto sebagai berikut :
Bumbu dihaluskan dan ditumis :
1. Bawang merah
2. Bawang putih
3. Merica
4. Cabe jawa kering 1 cm
5. Garam
6. Kapulaga, ambil dalamnya saja

Bumbu yang langsung dimasukkan dalam rebusan daging sapi (saya menggunakan daging iga sapi)
1. Jahe dimemarkan
2. Sereh
3. Daun jeruk
4. Daun salam
5. Kayu manis
6. Cengkeh 1 biji
7. Gula putih.

Iga sapi dipotong potong, rebus dengan 1 liter air hingga empuk, tambahkan daun bawang potong, bumbu yang ditumis dan   bumbu lain yang langsung dimasukkan, tambahkan potongan wortel bila suka. Masak hingga wortel lunak, angkat.

Siapkan mangkok lalu isi dengan nasi, tauge yang sudah direndam dengan air panas, mi soun yang sudah direndam hingga lemas, tuangi dengan kuah soto dan daging, taburi seledri cincang dan bawang merah goreng.
Sajikan bersama sambal, kecap dan tempe goreng bawang putih.

Advertisements

Kelonan Sama Hape

Ughm, lama gak coret coret di blog ini.. ya wis lah, nyampah dulu sebelum tidur, biar sampahnya gak kebawa mimpi.
Beberapa menit yang lalu, kanjeng romo nanyain hapenya dimana, ahihi, hapenya barusan saya kekepin, alias saya sabotase, buat nelpon si Adek (biar pulsa di hape saya awet, dan pulsa kanjeng romo yang melimpah ruah berkurang).
Saya perhatikan, sejak Ibu seda, gaya hidup kanjeng romo sedikit berubah. Dulu cuek saja hape diletakkan dimana, orangnya tidur dimana, sekarang gak afdol rasanya kalau tidur tidak ngelonin(*baca nyanding)hape.  Ketika saya nanya kenapa sih mesti nyanding hape, jawabannya bikin mrebes nih air mata, “dulu ibumu yang bangun nya selalu tepat waktu jam 3 pagi,aku gak bakalan kesiangan bangun, lha sekarang,yang bangunin aku ya hape ini,kalau gak sapi dan ayamku telat sarapan”.
Aishhh….. kanjeng romo lebih takut ayamnya lapar dan kalau sapinya telat makan bubur daripada peduliin aku kelaparan apa nggak. ***upsss, kok jadi cemburu sama sapi dan ayam gini…

Kalo dipikir pikir,alasan kanjeng romo ngelonin hape ada benernya juga. Semua harus berubah, dulu waktu masih sugeng, ibu itu andalan, bangun paling pagi tanpa alarm, nyiapin wedang dan sarapan buat kanjeng romo lalu bangunin semua penghuni rumah sebelum adzan subuh.
Sekarang, kanjeng romo ngelonin hape,ketika jam 3 pagi alarm berbunyi, dia akan nengok ke kamar saya, kalau lampu belum nyala, dia akan ketuk pintu sampai saya teriak “Iya”. Abis itu biasanya kanjeng romo balik kekamarnya, dan saya kedapur nyalain kompor, masak air, dan ke kamar kecil gosok gigi, cuci muka lanjut wudhu. Biasanya saat adzan pertama, air sudah mendidih, teh sudah diseduh dan saya tinggal menikmati waktu saya berduaan dialog sama DIA sampai subuh tiba. Sementara kanjeng romo akan keluar kamar ketika adzan subuh berkumandang.

Kalau kami berdua sedang waras, kami punya banyak waktu untuk ngobrol didapur sebelum langit terang sambil minum teh, dan buat saya ini inisiasi, sedikit demi sedikit meleburkan suasana agar jauh lebih dekat dan lebih bicara dari hati ke hati yang selama ini saya lalukan lebih banyak dengan ibu. pelan tapi pasti saya sudah mulai berani curhat, tentang kerjaan, keseharian, teman, dan *mungkin nanti bisa curhat urusan pria idaman 😆.

Biarpun kanjeng romo sekarang ngelonin hape, mesti saya tanamkan dalam pikiran saya kalau tidak bermaksud menjadikan hape sebagai pengganti ibu, kwkkwkw. Tapi lebih bagaimana berusaha kehidupan kami tidak amburadul selepas ibu tiada, dan kami tidak keburu buru mengawali hari kayak maling kesiangan lalu saya berangkat kekantor kesetanan sambil ngos-ngosan terus karena terlambat setor jempol di mesin fingerspot.

KACANG PANJANG MERAH

Ini kisah tenntang kacang panjang merah yang saya tanam januari lalu. Saya mendapat benih dari Bu Dyah Ismoyo 25 an butir, setelah disemai, tumbuh 20 batang dan saya tanam di no dig plot buatan bapak. Sampai bulan ke 4, tanaman masih produktif. Daunnya kalau dimasak jauh lebih enak dan tidak ada rasa langu, sementara buahnya, kalau dimasak berasa manis, tidak mudah lembek dan kriuk.

 

image
semaian kacang panjang merah

Benih kacang panjang merah disemai di gelas air mineral bekas dengan media berupa campuran pupuk organik dan tanah dengan perbandingan 1:1. Setelah 10 hari akan muncul 4 daun dan tanaman siap dipindah ke pot yang lebih besar atau ke lahan.

Continue reading KACANG PANJANG MERAH

Yang Lebih Menyakitkan dari Patah Hati

image

Katanya seeh, sakit karena patah hati lebih sakit dari sakit gigi, tapi bagi tukang ngerajut  moody macam saya, ada yang lebih sakit daripada patah hati.
Kalau pas ngerajut, pakai hakken (1 jarum) maupun breien (2 jarum)sudah dengan semangat empat lima, kalau lagi mood, trus tiba saatnya meneliti hasil rajutan, ternyata ada salah hitung stich, dan mesti bongkar satu atau beberapa round atau rows… hedeeew… remek, sakitnya lebih sakit dari patah hati. Biasanya nggulung benang sambil berurai air mata. Kalau bongkar sebagian mending. Pernah suatu kali, salah stitch saat make breien dan mesti bongkar total dan mulai dari awal… wua, berhari-hari bisa kriting nih muka, ditekuk mulu 👿

Rejeki Tani Tanpa Ibu

Rejeki Tani
Rejeki tani

Bulan April 2 tahun lalu, Bapak memberi nama kebun kecil dikeluarga kami dengan sebutan Rejeki Tani, sebuah tetenger agar mudah dikenali orang sekaligus pengharapan yang akan terus kami syukuri bahwa kami senantiasa berlimpah rejeki dari bertani, meskipun hanya kami lakukan disekitar rumah.

Sebenarnya bertani disekitar rumah bukan barang baru bagi keluarga saya, awal tahun 1980 an, ketika saya lahir dan keluarga kami menempati kebun yang sekarang menjadi rumah dan kebun kecil serta sebagian kecil lainnya sudah dijual untuk ditukar dengan tanah sawah, Bapak dan ibu sudah mempraktekkan home farming.

Kami menempati pondok bambu semi permanen, Bapak mulai menanam melinjo, nangka, jeruk keprok, rambutan dan tak lupa tanaman kayu kayuan seperti sono keling dan mindi, juga bambu yang sangat kami perlukan. sementara ibu menanam tomat, bayam raja, pisang beraneka jenis, paria, Waluh, dan lain sebagainya.

Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana bapak dan ibu setiap waktu memanen apa saja yang bisa kami jadikan uang dan keluarga kecil tempat saya bernaung terus tumbuh dari waktu ke waktu hingga seperti hari ini.  Saya juga masih ingat betul teman bermain pertama saya adalah segerombolan bebek dan itik peliharaan bapak, ikan-ikan dikolam, kambing yang seperti mesin pupuk berjalan, ayam yang telurnya tiap pagi saya curi, hingga sapi serta lebah madu.

Sosok bapak yang tak kenal lelah serta ibu yang telaten bertani, semangatnya tidak luntur hingga hari ini, bakhan ketika raga ibu mulai merapuh karena sakit, hingga tak bisa lagi beraktivitas seperti sedia kala, ibu nasih belum mau berhenti berpisah dengan tanaman-tanaman yang selalu jadi sumber makanan kami.

Tahun 2011 ketika saya memutuskan meninggalkan Makassar dan pekerjaan yang sebenarnya sangat saya cintai, agar bisa menemani dan merawat ibu, saya mulai berfikir untuk bagaimana membuat ibu berbahagia, memiliki aktivitas ringan.

Berawal dari sekedar menanam kangkung di halaman kala itu, kemudian berkembang menjadi beraneka tanaman yang kami butuhkan sehari-harì, kebun kecil kami berubah tak lagi sekedar ‘mainan’ kami. Tanpa kami harapkan sebelumnya, kebun kami dikunjungi banyak orang, bapak menjadi tutor dan ibu menjadi koki untuk tamu-tamu kami, dan saya menjadi tukang jualan benih onlen sekaligus abdi dalem yang harus selalu siap diperintah oleh bapak ibu.

Perlahan tapi pasti bapak yang semula menderita  darah tinggi, asam urat, jadi lebih sehat dan bugar, ceria karena kenal dengan banyak orang dan mendapati rumah menjadi regeng karena banyak aktivitas. Ibu juga bersemangat,tubuhnya membaik, meski tidak sembuh total, suasana hatinya juga mulai membaik. Bahkan saking semangatnya, ibulah yang membantu saya mendapatkan ijin dari bapak untuk bisa ikut ASEAN Training on Home Yard Utilisation for  Supporting Food  Security. Ilmu itu penting, dan akan membawa kebaikan bagi sesama setelahnya, kata ibu kala itu.

Takdir Allah tidak bisa ditolak, dibalik semua kecerian kami, tiba-tiba Ibu harus meninggalkan kami semua menghadap Sang Khaliq. Begitu banyak kenangan manis kami yang sempat terukir, menjadi peninggalan indah bersama ibu yang akan terus kami kenang.
Sepeninggal ibu, hingga hari ini, setiap memandang kebun kecil kami, perasaan menjadi tidak karuan, seperti ada yang hilang dari dalam diri saya dan bapak. Tanpa ibu, kebun kini terbengkalai, semua masih kepayahan beradaptasi dengan keadaan baru, aktivitas berkebun dan belajar, terhenti semuanya.

Rejeķi tani tanpa ibu kini masih ‘terbaring’, tetapi semoga kami segera bangkit dalam warisan semangat yang pernah diberikannya dan meneruskan langkah kami yang sempat terhenti, meraih apa yang pernah kami mimpikan bersama dan memperindah kenangan yang terukir dengan karya nyata di hari-hari kedepan.