My Mother – My Hero

Menemukan tulisan tentang Ibu yang saya buat sekitar 6 tahun yang lalu. Saya menuliskan tentang sosok Pahlawan dalam hidup saya, dan menjadi salah satu finalis dan tulisan ini sempat dipamerkan selama sebulan di Senayan City. Tulisan ini saya tulis saat saya masih berada diperantauan dan selalu memendam kerinduan kepadanya. Hari ini pun kerinduan saya kembali membuncah, Semoga Ibu Beristirahat dalam damai, Al Fatihah..

18 Agustus 2010 05:44:00  13:55:51 Dibaca : 1,057

Saat saya menuliskan posting ini, saya baru saja mendapatkan pesan pendek dari adik saya :

” Mbil, ada satu orang yang patut kita tiru, yang selalu sabar dari dulu sampai sekarang, ibu sak sabar-sabare , aku salut ma ibu, sanggup mendampingi bapak dalam segala kondisi apapun, kita yang jadi anak kurang sabar”

Seketika air mata saya bercucuran. Rasanya didepan mata terbentang layar tancap kenangan tentang ibu saya yang sekarang berjarak ribuan kilometer dari saya, sedang berjuang untuk sembuh dan memantau anak-anaknya lewat ketajaman batinnya. Saya berkata tentang ketajaman batin bukan berarti ibu saya mempunyai indra keenam, tetapi saya sangat percaya ada ikatan batin diantara kami.

Selama 5 tahun perantauan saya, saya memang tidak pernah saling bersapa karena 5 tahun terakhir, kehilangan pendengaran ibu semakin parah akibat kecelakaan yang pernah dialaminya, sesekali saya hanya berkirim surat. Dimasa lalu, ibu adalah wanita cantik, energik dan pekerja keras meskipun berasal dari keluarga yang cukup berada waktu itu, ibu tidak lantas menjadi orang yang mengandalkan kekayaan orang tuanya, ibu hidup dengan mengajar sampai bertemu dengan bapak dan menikah.

Menurut cerita almarhumah nenek saya, setelah menikah dengan bapak, kehidupan ibu berubah total, Bapak membawa ibu tinggal di kampung kecil, membuat pondok bambu yang dindingnya bisa dilalui udara dan cahaya, serta hidup dari tanaman-tanaman yang sengaja ditanam di sekitar rumah. Setelah saya lahir, ibu kemudian meninggalkan pekerjaannya, dan fokus mengurus keluarga kecil yang dimilikinya.

Meskipun bapak bekerja juga sebagai pegawai negeri, tetapi penghasilan bapak tidak pernah kembali sampai mendekati pensiun, karena bapak memanfaatkan SK pegawainya untuk mencukupi kebutuhan rumah dan isinya, sementara untuk biaya hidup sehari-hari dan biaya sekolah saya dan adik sampai tingkat perguruan tinggi seutuhnya ditanggung dari penghasilan ibu berkebun sayuran. Berkebun sayuran pun bukan perkara mudah kala itu, untuk menjualnya saja ibu rela bersepeda jam 2 pagi menembus udara dingin Jogja bagian utara menuju pasar Beringharjo yang jaraknya kuranglebih 20 kilometer. Tepat jam 6 pagi, ibu sudah sampai dirumah dan menyiapkan segala keperluan saya dan adik serta bapak yang bersiap ke kantor.

Meskipun ibu meninggalkan atribut-atribut kemewahan dan menjalani kehidupan dengan susah payah, ibu tetap orang yang sangat sabar, tabah menghadapi bapak yang kadang temperamental, anak-anak yang kadang merepotkan dan sabar menerima keadaan yang menurut sebagian orang sangat menyedihkan. Bagi ibu, kebahagiannya adalah melihat kedua anaknya tumbuh dan mendapat pendidikan yang baik, sampai kami semua ‘mentas’ dan mencari penghidupan sendiri.

Sebagai mantan pendidik, ibu juga tak pernah lupa mengajarkan kedisiplinan, kerja keras, dan berusaha menjadi pembelajar sepanjang kami mampu. Ibu tak segan menempelkan kain basah yang sangat dingin untuk membangunkan kami pada dini hari untuk belajar,   Ibu juga tak segan menjual apa yang dimilikinya demi mencukupi kebutuhan bacaan kami. Didikan yang keras, tetapi kami kini menyadari manfaatnya.

Sebuah kenyataan pahit harus kami telan, sekitar 10 tahun lalu, Ibu mulai kehilangan pendengaran. yang kata dokter sebagai dampak jangka panjang kecelakaan yang dialaminya. Walau demikian, ibu tetap tidak menghentikan aktivitas bertani dan menjual hasil panen sayuran pada dini hari. Saya kadang menitikkan air mata ketika melihat ibu berjualan, dan ada pembeli yang membesarkan suaranya. batin saya teriris melihat ibu diperlakukan seperti itu, walau ibu tidak memedulikannya. Ibu tetap berjuang untuk anak anaknya. Selain pendengaran yang hilang, ibu juga mulai sakit-sakitan, sering terkena flu kalau udara di tempat tinggal kami menjadi sangat dingin, tetapi ibu masih menganggap semua itu biasa, ibu berobat rutin ke Dokter yang sangat ia percaya. Kami sebagai anaknya, tidak tahu pasti apa yang diderita ibu, ibu menyimpannya agar kami tidak bersedih. Ibu tetap menyertai kami  dalam suka dan duka tanpa keluhan sedikitpun. Selepas saya wisuda dan adiksaya juga sudah mula bekerja, ibu mulai mengurangi aktivitas bertaninya, tetapi lagi-lagi ibu menerima pukulan berat. Suatu hari, ibu batuk darah dan dilarikan kerumah sakit. Dokter mengatakan dalam paru-paru ibu terisi cairan dan ada bagian yang infeksi. Spontan ibu harus menalani perawatan hampir satu tahun, hingga rambutnya habis dan badannya tinggal kulit pembalut tulang. Pengobatan panjang ibu membuatnya mengalami gangguan pada jantungnya. Kami memindahkan ke rumah sakit lain dan dokter memutuskan untuk menghentikan pengobatan karena paru-parunya sudah baik, kami hanya tinggal menjaga perasaannya agar jantungnya tidak rusak. Sebagai seorang istri, ibu juga tidak mengeluhkan tentang apa yang dialaminya. Dalam keadaan yang sekarang, ibu masih setia bangun pagi menyiapkan sarapan untuk bapak, memungut biji melinjo yang jatuh dari pohon, mengupas dan menjadikannya emping dan sebagian dijual. Saat ini saya sangat bersyukur, pelan tapi pasti ibu mulai pulih, meski tanda-tanda kerrapuhan raganya sangat jelas terlihat, tetapi ibu tidak pernah sedikitpun berpaling dari mimpinya untuk melihat anak-anaknya bahagia. Sesekali ibu mengirimkan baju untuk saya lewat pos, ibu melakukan itu seolah saya masih belum bisa membeli baju sendiri, baginya, saya adalah putrinya yang selalu kecil. Ibu juga diam-diam menyiapkan apa yang saya butuhkan hari ini, esok atau mungkin nanti. Bahkan baru-baru ini dengan kemampuan terbatas yang dimilikinya, ibu berusaha mempersiapkan keperluan  saya. walaupun saya sudah melarangnya bekerja keras, ibu selalu bilang “selagi ibu masih bisa kenapa tidak”, kalimat ini yang membuat saya selalu mengalah pada keinginannya.  Saya hanya bisa berdoa semoga ibu baik baik saja.

Ibu memang hanya wanita biasa, tetapi bagi kami, beliaulah pahawan saya, wanita luar biasa yang paling menginspirasi saya. Ibu selalu bersemangat untuk sembuh demi kami semua. Meskipun raganya rapuh dan pendengarannya 90 % hilang, ibu selalu yakin akan kebaikan, dan menularkan kebaikan itu kepada kami anak-anaknya. Seperti kalimat adik saya, dialah pahlawan, teladan kami dalam menjalani hidup. semoga tingkah-lakunya, ajarannya dan keteguhan hatinya cermin bagi kami untuk terus menatap kedepan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s